new hd xxx video 18 xxx www amateur sister free porn sek xxx anak indonesia www com deutsche porno hd
الرئيسية

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 إخوتي الطلبة وعشاق اللغة العربية الأعزاء  الأحباء.....

 أرحب بكم جميعا –أينما كنتم- على هذا الموقع الذي تم تصميمه ليكون ملتقانا جميع عشاق اللغة العربية من الإندونيسيين خاصة وأبناء المسلمين من كل أنحاء العالم عامة. وجاءت فكرة إنشاء هذا الموقع لتحقيق مهمة بسيطة أراها عظيمة وهي أن يكون مكانا نتبادل فيه الإفادة والاستفادة ونسد فيه فجوة الاتصال بيننا لنتقدم معا في رفع مستوى تعليم اللغة العربية وتعلمها....

وهذا الموقع بكل ما فيه من المعلومات لا يدعي أن يكون مرجعا يستند إليه ويعتمد عليه متعلمو اللغة العربية، إنما هو باب تفتحه الرغبة في تحمل مسئولية نشر اللغة العربية وحمايتها والحفاظ  عليها ليدخل منه كل عشاق هذه اللغة إلى عالم يتحملون فيه المسئولية نفسها. هذه اللغة كلما تمر الأيام كلما تتعرض للمحن فإن لم نتحمل مسئولية حمايتها ونتعاون في الحفاظ عليها ماتت رغم حياتها وانقرضت رغم بقائها. كلا... لأنها لغة ينطق بها كتاب الله والرسول الذي دعا إليه. وهي أثمن ما أورثتنا حضارتنا الإسلامية....... وهي لغة نعيشها أينما كنا، ولغة.....  

 إذا وقعت على أسماعنا     #   كانت لنا بردا على الأكباد

 ستظل رابطة تؤلف بيننا    #   فهي الرجاء لناطق الضاد

 

في سبيل لغة الضاد

د. نصرالدين إدريس جوهر

 

 

NAMANYA UWIN

Nasaruddin Idris Jauhar

 

Ini cerita tentang seekor burung perkutut. Saya dan anak perempuan saya memberinya nama Uwin. Kami namai Uwin, karena ia saya temukan di kampus tempat saya ngajar, UIN Sunan Ampel. Ia jatuh dari sarangnya saat hujan angin.

Sekitar tiga tahun silam, di sebuah siang yg basah usai hujan lebat, seorang teman dosen berteriak memanggil saya yang sedang berjalan tergesa di tengah rintik.

"Kebetulan Ustad lewat" ucapnya dengan mimik lega.
"Ada apa, Ustad?" timpal saya.
"Ini ada anak burung jatuh dari pohon saat hujan deras tadi" ujaranya sambil menunjukkan seekor anak perkutut yang menggigil di tangannya.
"Mau tak saya ambil, khawatir mati. Mau saya bawa pulang, kahwatir mati di jalan. Nah, kebetulan Antum lewat, bawalah ini pulang. Antum rawat" ujarnya sambil menyodorkan anak burung itu.

Saya tak punya pilihan selain menerima amanat merawat anak burung itu. Kebetulan, saya juga suka jenis perkutut. Teman saya itu sebenarnya seorang suhu perkutut. Di rumahnya di Blitar sana, ia punya peternakan perkutut kelas nasional yang harganya bisa sampai puluhan juta seekor. Tapi, itu tadi, ia tidak berani membawa pulang anak perkutut temuannya itu karena takut mati di tengah jalan. Mungkin oleh dinginnya AC bis Surabaya-Blitar yang hampir 5 jam itu.

Anak burung itu akhirnya saya rawat sampai dewasa. Karena disuapi tiap hari, ia jadi jinak. Suaranya juga saya suka: melengking dan panjang. Tapi, entah bagaimana ceritanya, suatu hari ia raib dari sangkar. Hilang tanpa jejak. Semua tetangga yang punya perkutut saya tanyai, tapi tak ada yang tahu. Saya sedih. Anak saya juga ikut sedih, kehilangan Uwin-nya.

Selang beberapa hari, burung itu kembali. Ia bertengger di tembok belakang rumah. Walaupun tidak ada ciri khusus, saya langsung mengenalinya. Yang bikin saya yakin ia tampak akrab. Saya dekati, ia tidak terbang. Saya acungkan petikan jari, ia jawab dengan suara dan anggukan. Burung liar tidak mungkin seakrab itu.

"Teko endi waeh awakmu, Le?" sekonyong-konyong saya menyapanya, sambil berharap dia paham betapa saya kehilangan dia. Tapi hanya dia jawab dengan tatapan. Saya agak menyesal, kenapa dulu ia tidak saya ajari bicara. Hehee..

Sejak itu, hampir tiap pagi ia datang. Bertengger di atas tembok dan melepas bunyi khasnya. Anak saya sering memberitahu kedatangannya. "Bii, Uwin datang" sambil menunjuk ke atas tembok. Seperti biasa, saya menyapanya dengan petikan jari. Seperti biasa juga, ia jawab dengan anggukan.

Suatu hari, ia datang berdua. Ia membawa seekor perkutut lain. Saya langsung berpikir, kayaknya ini tunangannya. Ia mungkin datang sowan ke saya untuk mengenalkan tunangannya sekaligus minta restu. Juga untuk menunjukkan kepada tunangannya siapa bapak angkatnya. Hehee.

Pasangannya itu juga jinak. Ia tidak terbang kalau kelihatan saya, atau bahkan kalau saya mendekat. Mungkin sudah diajari oleh si Uwin agar gak usah takut sama bapak mertua... Hehee.

Setelah itu, dia tetap rutin sambang pagi. Kadang sendiri, kadang berdua. Sampai kemudian, setelah beberapa lama, ia datang bertiga. Ada perkutut lain yang ukurannya agak kecil yang ikut dengannya. Sy langsung paham itu anaknya. Di atas tembok rumah saya itu, ia sering terlihat menyuapi anaknya. Luar biasa si Uwin. Sudah berkeluarga dan sudah punya anak pula.

Anaknya ini pun jinak. Tidak panik kalau kelihatan saya. Mungkin oleh si Uwin sudah diajari agar tak usah takut sama Embah. Hehee..

Burung memang makhluk-Nya yang istimewa. Al-Qur'an pun menyampaikan sebagian pesan dan risalahnya melalui fabel dan tamsil burung. Demikian juga si Uwin ini, minimal buat saya. Ia telah mengajari saya banyak hal. Terutama bagaimana menjaga silaturrahmi dengan orang tua.

Tidak sedikit anak zaman ini yang lupa dengan orang tua dan rumah tempat ia dibesarkan. Lupa dalam arti jarang pulang dan jarang komunikasi. Ketika sudah berkeluarga, orang tua kadang dilupakan. Istri/suami dan anak tidak diakrabkan dengan mereka. Tidak seperti yang dicontohkan oleh si Uwin.

Ah, ini mungkin berlebihan. Tapi, semoga saja tidak. Wallahu A'lam.

Maswet, 27 Peb 2021

Share

Penghargaan / جائزة

المدونة / Tulisan Blog

كتاب جديد / Buku Baru

 

حكمة / Hikmah

زوار / Pengunjung