new hd xxx video 18 xxx www amateur sister free porn sek xxx anak indonesia www com deutsche porno hd
الرئيسية

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 إخوتي الطلبة وعشاق اللغة العربية الأعزاء  الأحباء.....

 أرحب بكم جميعا –أينما كنتم- على هذا الموقع الذي تم تصميمه ليكون ملتقانا جميع عشاق اللغة العربية من الإندونيسيين خاصة وأبناء المسلمين من كل أنحاء العالم عامة. وجاءت فكرة إنشاء هذا الموقع لتحقيق مهمة بسيطة أراها عظيمة وهي أن يكون مكانا نتبادل فيه الإفادة والاستفادة ونسد فيه فجوة الاتصال بيننا لنتقدم معا في رفع مستوى تعليم اللغة العربية وتعلمها....

وهذا الموقع بكل ما فيه من المعلومات لا يدعي أن يكون مرجعا يستند إليه ويعتمد عليه متعلمو اللغة العربية، إنما هو باب تفتحه الرغبة في تحمل مسئولية نشر اللغة العربية وحمايتها والحفاظ  عليها ليدخل منه كل عشاق هذه اللغة إلى عالم يتحملون فيه المسئولية نفسها. هذه اللغة كلما تمر الأيام كلما تتعرض للمحن فإن لم نتحمل مسئولية حمايتها ونتعاون في الحفاظ عليها ماتت رغم حياتها وانقرضت رغم بقائها. كلا... لأنها لغة ينطق بها كتاب الله والرسول الذي دعا إليه. وهي أثمن ما أورثتنا حضارتنا الإسلامية....... وهي لغة نعيشها أينما كنا، ولغة.....  

 إذا وقعت على أسماعنا     #   كانت لنا بردا على الأكباد

 ستظل رابطة تؤلف بيننا    #   فهي الرجاء لناطق الضاد

 

في سبيل لغة الضاد

د. نصرالدين إدريس جوهر

 

 

IMAN DI LAUT, KUFUR DI DARAT

Nasaruddin


Kemahamutlakan kekuasaan Allah meliputi semua ciptaan-Nya. Wilayah kekuasaan-Nya adalah semua yang ada, baik yang kita ketahui maupun yang tak terjangkau oleh akal pikiran kita. Hamparan bumi ini, yang tidak seluruhnya kita ketahui, hanyalah bagian kecil dari kekuasaan-Nya. 

Dalam Surat Thaha ayat 6, Allah menegaskan kemahaluasan wilayah kekuasaan-Nya: "Milik-Nyalah apa yang ada di langit, apa yang ada di bumi, apa yang ada di antara keduanya, dan apa yang ada di bawah tanah". 

Ayat ini memetakan kemahaluasan wilayah kekuasaan Allah dalam empat frasa: Apa yang ada di langit (Ma fis samaawaat), apa yang ada di bumi (Ma fil ardhi), apa yang ada di antara langit dan bumi (Ma bainahuma), dan apa yang ada di bawah tanah (Ma tahtats sara). 

Dalam kadar jangkauan pikiran dan bahkan khayalan kita, tidak ada tempat di alam raya ini yang tidak tercakup dalam empat wilayah kekuasaan Allah tersebut. Bumi yang kita diami ini saja, yang hanya seper sekiannya saja yang kita ketahui, hanyalah satu bagian kecil dari jangkauan dan cakupan kemahaluasan kerajaan Allah. 

Kemahaluasan kekuasaan Allah tersebut tidak hanya dalam dimensi ruang, tapi juga dalam dimensi waktu. Artinya, kendali Allah atas wilayah kekuasaannya tersebut berlaku mutlak setiap dan sepanjang waktu. Tak sedetik pun makhluk-Nya yang tersebar di alam raya ini yang terlepas dari pengawasan dan kuasa-Nya.5 Kekuasaan-Nya atas semua makhluk tidak hanya tentang apa, di mana, dan bagaimana, tapi juga kapan dan bila mana. 

Dalam hal kematian, misalnya, kekuasaan Allah tidak hanya menentukan siapa yang dihampiri kematian, di mana dan dengan cara apa kematian menghampirinya, tapi juga kapan kematian itu datang menjemputnya. Ketika Allah sudah menentukan waktunya, tak ada satu kekuatan pun yang bisa mempercepat atau menundanya. 

Dalam genggaman ruang dan waktu kekuasaan Allah, manusia hanyalah obyek yang semestinya senantiasa pasrah dan tawakkal. Karena pada dasarnya ia menjalani sesuatu yang di luar kendalinya. Ia menjalani ruang dan waktu yang secara mutlak dikendalikan dan ditentukan oleh Allah. Apa yang harus dilakukannya hanyalah memanfaatkan sebaik mungkin potensi yang diberikan Allah. Selebihnya, ia harus tunduk dan tawakkal kepada keputusan-Nya. 

Tapi, dengan keangkuhannya, manusia terkadang menawar dan memeta-metakan ruang dan waktu kekuasaan Allah. Ada ruang dan waktu dimana mereka mengakui, menyadari dan menerima sepenuhnya bahwa kekuasaan Allah berlaku mutlak. Di sana dan pada saat itu, mereka menegaskan tauhid dan keberhambaan mereka kepada- Nya. 

Tapi juga ada ruang dan waktu dimana manusia menganggap punya kuasa dan kendali atas diri mereka. Di sana dan pada saat itu, mereka kufur atas nikmat dan kuasa Allah. Dalam kadar tertentu, Allah hilang dalam perhitungan mereka, sehingga juga mereka tidak bersandar dan bertawakkal kepada-Nya. 

Allah menyindir prilaku manusia seperti ini dalam firman-Nya di Surat Al-Isra':67: "Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang biasanya kalian seru, kecuali Dia. Tetapi ketika Dia menyelamatkan kalian ke daratan, kalian berpaling (dari-Nya). Dan manusia memang selalu ingkar (tidak bersyukur). 

Sindiran yang sama atas prilaku iman di laut dan kufur di darat ini juga ada dalam Firman Allah di Surat Ar-Ruum ayat 65 dan Surat Luqman ayat 22. Berulangnya pesan ini dalam beberapa ayat menegaskan bahwa manusia memang sangat potensial untuk terjerumus ke dalam keberagamaan dan kebertuhanan yang kondisional dan inkonsisten seperti ini. 

Ayat-ayat itu semuanya menggambarkan sifat sebagian manusia yang mengakui kekuasaan Allah hanya ketika mereka berlayar di lautan dalam keadaan cuaca buruk. Pada kondisi tersebut, mereka merasa bukan apa-apa dan tidak punya kuasa sedikit pun bahkan atas diri mereka sendiri. Di sinilah mereka sadar bahwa Allahlah penguasa dan penentu segalanya, dan oleh karenanya mereka berdoa dan memohon keselamatan kepada-Nya. 

Namun ketika atas kuasa Allah mereka selamat dan kembali ke darat, mereka kembali inkar. Mereka merasa bahwa di daratan mereka punya kendali atas diri mereka. Mereka merasa punya kemampuan untuk melakukan sesuatu untuk terhindar dan selamat dari kematian. 

Padahal, sebagaimana ditegaskan dalam lanjutan Surat Thaha tersebut (Ayat: 68-69), mereka sama sekali tidak akan luput dari kuasa dan kehendak Allah dimana pun mereka berada. Daratan yang mereka anggap aman itu, kalau Allah menghendakinya, bisa saja terbenam ke dasar bumi atau diterjang oleh angin badai bercampur batu, sehingga tak seorang pun dari mereka bisa selamat. 

Bahkan, badai lautan yang sangat mereka takuti itu, bisa saja kembali mereka alami. Dengan kuasa-Nya, Allah dengan mudah menggiring hidup mereka sehingga mereka kembali berlayar. Mereka akan kembali mengalami badai dan gelombang, tapi doa dan munajat keselamatan mereka tidak akan dihiraukan lagi oleh Allah setelah sebelumnya doa dan munajat yang sama mereka inkari. 

Iman di laut dan kufur di darat ini hanyalah tamsil bahwa pengakuan dan ketundukan manusia kepada kemahakuasaan Allah kadang tergantung ruang, waktu, kondisi, dan keadaan. Dalam kadar yang berbeda, hal tersebut bisa tercermin dan terpola dalam perbedaan kadar ketergantungan dan ketawakkalan kita kepada Allah saat kita miskin dan saat kita kaya, saat kita susah dan saat kita senang, saat kita sakit dan saat kita sehat, saat kita dirundung masalah dan saat kita tanpa masalah, saat kita menjadi rakyat biasa dan saat kita menjadi pemimpin, dst. 

Semoga Allah memberikan kepada kita nikmat iman dan keberhambaan yang total kepada-Nya. Iman dan keberhambaan yang kadarnya senantiasa sama dalam segala ruang dan waktu. Amin. 


Wallahu A'lam...

Link Artikel Ini di Media Lain...

Share

Penghargaan / جائزة

المدونة / Tulisan Blog

كتاب جديد / Buku Baru

 

حكمة / Hikmah

زوار / Pengunjung