new hd xxx video 18 xxx www amateur sister free porn sek xxx anak indonesia www com deutsche porno hd
Indonesia

ABABIL BUKAN NAMA BURUNG

Nasaruddin Idris Jauhar

 

Semua kita tentu pernah mendengar dan tahu tentang Burung Ababil. Pengetahuan umum kita merekamnya sebagai nama burung yang memusnahkan tentara bergajah pimpinan Abrahah yang saat itu hendak menghancurkan Baitullah Ka'bah.

Istilah Burung Ababil sendiri adalah terjemahan dari kata "Thayran Abaabil" yang disebutkan dalam Surat Al-Fiil. Terjemahan ini sebenarnya kurang teliti dan lengkap. Karena yang diterjemah hanya kata Thayran saja, sementara kata Abaabil-nya tidak. Akhirnya kata Abaabil dipahami sebagai nama burung, sama dengan nama-nama burung lain seperti: Perkutut, Kenari, Kutilang, atau Hudhud yang juga disebut dalam Al-Qur'an.

Padahal, kata "Abaabil" bukan nama burung, melainkan sifatnya. Kitab-kita tafsir menjelaskan bahwa kata "Abaabil" artinya: banyak, bergerombol, dan beriringan dari banyak arah. Jadi, "Thayran Abaabil" itu artinya burung yang bergerombol dan terbang beriringan dari segala arah.

Pemahaman yang kurang tepat ini terlanjur kita terima begitu saja. Bahkan diajarkan sebagai bagian dari Sejarah Islam. Saat SD dulu, saat belajar tentang pasukan gajahnya Abrahah atau dalam soal ujian, kita biasanya ditanya tentang nama burung penghancur tentara bergajah yang mau menghancurkan Ka'bah. Jawabannya: Burung Ababil.

Pemahaman seperti ini juga beredar secara luas. Dalam kamus oline tentang istilah-istilah agama Islam, kata Ababil diartikan: "Nama burung yang menyerang tentera Abrahah yang bergajah dengan seketul batu ketika mereka datang ke Mekah untuk meruntuhkan Kaabah."
(https://www.google.com/amp/s/kamuslengkap.com/amp/kamus/agama-islam/arti-kata/ababi)

Ini memang hanya soal ketidaktepatan dalam memahami sebuah kata. Tapi jangan lupa, ini kata dalam Al-Qur'an, ini diksi Al-Qur'an, yang tidak digunakan kecuali untuk menyampaikan pesan yang penting.

Lalu, apa konsekuensi dari pemahaman yang kurang tepat seperti ini? Pertama, tentu saja ini akan melahirkan pemakaian bahasa yang juga tidak tepat. Karena "Ababil" dipahami sebagai nama burung, maka penggunaan kata ini selanjutnya juga akan kurang tepat, karena cenderung berkonotasi nama benda, bukan sifat atau karakter.

Kedua, dan ini lebih serius, pemahaman seperti ini berarti memahami sebuah kata tidak sesuai dengan konteks penggunaannya dalam Al-Qur'an. Kata "Ababil" digunakan untuk memberikan gambaran bagaimana karakter kawanan burung yang dengan cara di luar nalar telah memusnahkan pasukan yang dengan kekuatan dahsyat hendak menghancurkan Rumah Allah Ka'bah.

Dengan memahami kata "Ababil" sebatas nama burung, kita kehilangan gambaran bagaimana burung-burung tersebut terbang bergerombol, bermanuver, dan menghujani pasukan Abrahah dengan batu dari paruh dan kaki-kaki mereka.

Alam khayal kita juga tidak dirangsang untuk membayangkan bagaimana burung-burung tersebut datang dari berbagai penjuru, mememenuhi langit di atas pasukan gajah-nya Abrahah, dan menyerang mereka dengan cara yang tak tercerna oleh nalar mereka.

Dan akhirnya, pemahaman seperti ini juga akan membuat kita kehilangan sebagian dari keping-keping keindahan kisah Al-Qur'an. Keindahan kisah Al-Qur'an dibangun dari level kata. Ketika sebagian dari kata-katanya tidak dipahami secara mendalam, sedikit banyak tergerus pulalah keindahannya dari dalam benak kita.

Wallahu A'lam.

Share

Penghargaan / جائزة

المدونة / Tulisan Blog

كتاب جديد / Buku Baru

 

حكمة / Hikmah

زوار / Pengunjung