new hd xxx video 18 xxx www amateur sister free porn sek xxx anak indonesia www com deutsche porno hd
Indonesia

MIDZOLLATURRAHMAAN
(Payung Sang Maha Pengasih)

Nasaruddin Idris Jauhar

 

"Berdoalah walaupun untuk masalah sepele. Bisa jadi, Allah akan langsung mengabulkannya, agar engkau semakin sadar dan yakin bahwa Allah hadir untukmu dalam segala kondisi." Inilah pelajaran yang saya petik dari pengalaman saya di tengah deras hujan malam ini.

Sembari menunggu anak yang kursus sampai jam 8 malam, saya silaturrahmi ke seorang sahabat. Karena Corona, sudah setahun lebih kami tidak bertemu. Saat meneleponnya sore tadi, dia begitu senang mendengar saya mau datang. Saya pun merasa sudah gak sabar bertemu dan ngobrol dengannya.

Di teras rumahnya, kami langsung larut dalam obrolan. Banyak hal yang kami bincangkan, mulai dari cara mengawinkan burung sampai cara mentadabburi ayat-ayat Al-Qur'an. Kebetulan, dua topik itu memang kesamaan kami: sama-sama hobi burung perkutut dan sama-sama jamaah halaqah online tadabbur Al-Qur'an yang diadakan di fakultas kami.

Asik ngobrol, terdengar azan Isya. Saya pamit salat di musalla sekitar 200 meter samping rumahnya. Usai salat, saya mampir toilet. Saat keluar, ternyata sudah hujan deras. Musala sudah tutup dan jamaah sudah pulang semua. Karena musalanya tidak punya teras, saya berdiri menunggu hujan reda di tempat wudu.

Hujan makin deras. Sempat terpikir untuk menelopon sahabat saya itu agar menyuruh anaknya datang mengantarkan payung. Tapi urung saya lakukan, karena tidak ingin merepotkannya. Anaknya masih kecil-kecil, perempuan semua lagi. Dia sendiri kondisinya sulit berjalan, apalagi melewati genangan air saat hujan malam hari seperti saat ini.

Saat itulah dari mulut saya terucap doa. "Ya Allah gerakkan hati salah seorang hamba-Mu untuk mengantarkan payung buatku." Saya tahu, tak ada yang mengenal saya di kampung ini selain sahabat saya itu. Lalu siapa yang akan mengantar payung? Tidak tahu. Tapi, justru karena kondisi inilah saya terdorong untuk berdoa.

Usai berdoa, saya coba membunuh waktu dengan HP, sembari berharap hujannya segera reda. Diam-diam saya juga mulai cemas, karena sebentar lagi jam 8 malam, waktunya anak saya selesai kursus.

"Pak, Jenengan sampun salat?" suara seorang ibu mengagetkan saya. Ibu itu tiba-tiba muncul di tengah deras hujan sambil membawa payung.
"Sampun" jawab saya gelagapan.
"Jenengan sinten?" tanyanya lagi
"Kulo tamune Pak Mahfud" jawab saya sambil menunjuk arah rumah sahabat saya itu. Ibu itu mengangguk paham.
"Niki kulo bethoaken payung," ujarnya sambil menyodorkan payung besar motif kembang warna biru
"Payunge sinten niki, Bu?"
"Payung kulo," jawab ibu itu lalu pergi, tanpa menghiraukan ucapan terima kasih saya.

Agak-agak gak percaya dengan yang barusan terjadi, saya segera meninggalkan musala dengan payung ibu itu. Di tengah jalan pulang ke rumah sahabat saya, saya kemudian tahu bahwa ibu tadi adalah pemilik warung yang terletak tidak jauh dari musalla.

Berkali-kali saya mengucap syukur. Yang barusan terjadi sungguh tidak saya sangka. Tak seorang pun yang mengenal saya di kampung ini, termasuk ibu itu. Dari warung ibu itu, tempat wudu musala tempat saya berdiri pun tidak terlihat. Lalu dari mana ibu itu tahu ada saya yang menunggu hujan di sana? Kenapa pula ia mengantar payung untuk saya yang tidak dikenalnya.

Saya teringat doa yang saya ucapkan tadi. Alhamdulillah, Allah telah berkenan mengabulkannya.

Redaksi doa itu saya dapatkan dari ceramah seorang ustaz tentang anjuran berdoa dalam segala hal dan kondisi. Ia memberi ilustrasi: "Kalau anda kehilangan sandal, jangan mengeluh atau marah. Berdoalah "Ya Allah sandal saya hilang, berikan gantinya!" Allah memang tidak akan melemparkan sandal dari langit, tapi Dia akan menggerakkan hati hamba-Nya yang lain untuk menjadi penyebab anda punya sandal lagi."

Kata-kata "Allah akan menggerakkan hati hamba-Nya" itulah yang saya adopsi dalam redaksi doa saya tadi. Dan, sekali lagi alhamdulillah, Allah telah mengabulkannya dengan menggerakkan hati ibu itu untuk datang di bawah deras hujan mengantarkan payung buat saya. Padahal ia tidak mengenal saya dan juga tidak tahu kalau saya tamu tetangganya.

Semoga pengalaman saya ini ada manfaatnya bagi orang lain. Amin.

Maswet, 6 Maret 2021.

____

Jenengan sampun salat? : Anda sudah salat?

Sampun: sudah.
Jenengan sinten: Anda siapa?

Kulo tamune Pak Mahfud: Saya tamunya Pak Mahfud.

Niki kulo bethoaken payung : Ini saya bawakan payung.

Payunge sinten niki, Bu?: Payungnya siapa ini, Bu?

Payung kulo : Payung saya.

Share

Penghargaan / جائزة

المدونة / Tulisan Blog

كتاب جديد / Buku Baru

 

حكمة / Hikmah

زوار / Pengunjung