new hd xxx video 18 xxx www amateur sister free porn sek xxx anak indonesia www com deutsche porno hd
Indonesia

KETELADANAN
Nasaruddin

 Beberapa orang budak di kota Bashrah datang menghadap Imam Hasan Al-Bashri, ulama dan mufti agung kota Bashrah saat itu. Mereka mengadu tentang perlakuan semena-mena majikan mereka, dan meminta Sang Imam membantu mereka keluar dari kondisi tersebut dengan menyampaikan khutbah Jumat tentang keutamaan memerdekakan budak.
Mereka yakin, sekali sang Imam berbicara tentang tema itu, orang-orang kaya kota Bashrah akan berlomba memerdekakan budak-budak mereka. Karena mereka tahu betapa kharismatiknya beliau di mata masyarakat saat itu, dan betapa taat dan takdzimnya masyarakat kepada titah dan tutur beliau. Dan kalau ini benar terjadi, mereka pasti akan segera merasakan bagaimana menjadi manusia merdeka.
Kepada para budak tersebut Sang Imam berjanji akan menyampaikan tema usulan mereka dalam khutbah Jumatnya.
Berbekal janji Sang Imam, para budak tadi dengan hati penuh harap menunggu datangnya hari Jumat. Mereka tidak sabar mendengarkan beliau berkhutbah tentang keutamaan memerdekakan budak. Terbayang dalam benak mereka, setelah mendengar khutbah itu, majikan mereka langsung memerdekakan mereka, dan berakhirlah hidup pilu yang selama ini mereka jalani sebagai budak.
Tapi, di luar dugaan mereka, di Jumat pertama setelah pertemuan itu, Sang Imam ternyata menyampaikan hal lain dalam khutbahnya, bukan tentang keutamaan memerdekakan budak. Mereka langsung mengalihkan harapan mereka ke khutbah Jumat berikutnya.
Ternyata, di Jumat kedua itu pun kembali sang Imam berkhutbah tentang tema lain. Tak sedikit pun beliau menyinggung tentang keutamaan memerdekakan budak. Bahkan, di Jumat ketiga, keempat, kelima, dan Jumat-Jumat setelahnya juga sama. Sang Imam belum juga berkhutbah dengan tema yang dijanjikannya. Para budak pun mulai bertanya-tanya, apakah sang Imam lupa akan janjinya?
Namun demikian, rasa takdzim mereka kepada beliau menepis semua tanya dan ragu yang mulai muncul dalam benak mereka. Mereka terus menunggu dan berharap Sang Imam berkhutbah dengan tema yang akan merubah nasib mereka tersebut. Mereka yakin sang Imam hanya sedang mencari waktu yang tepat,  beliau tak akan menyalahi janjinya.
Hampir setahun berlalu, sang Imam akhirnya benar-benar berkhutbah tentang keutamaan memerdekakan budak seperti yang mereka minta. Dalam khutbahnya, Sang Imam menyeru orang-orang kaya kota Bashrah untuk memerdekalan budak mereka. Mereka pun girang bukan kepalang.
Dan seperti perkiraan mereka, pasca khutbah itu, majikan-majikan kaya kota Bashrah ramai-ramai membebaskan budak mereka. Tak seorang pun yang hadir atau mendengar  tentang khutbah itu yang tidak membebaskan budaknya. Mereka pun ikut dimerdekakan oleh majikan mereka.
Setelah merdeka, para mantan budak itu datang menemui Imam Hasan Al-Bashri. Alih-alih berterima kasih atas jasa Sang Imam, mereka justru datang untuk menyampaikan keberatan mereka atas sikap beliau. "Kenapa Engkau begitu lama baru menyampaikan khutbah tentang pembebasan budak?" tanya mereka dengan nada yang memojokkan Sang Imam. Mereka menganggap beliau telah menggantung nasib mereka begitu lama. Andai sejak Jumat pertama beliau menuruti janjinya, tentu sudah sejak lama pula mereka dimerdekakan.
Sang Imam menjawab: "Saudara-Saudaraku, saya butuh waktu lama tersebut karena saya tidak memiliki budak. Saya harus menabung dan mengumpulkan uang terlebih dahulu untuk membeli seorang budak dan kemudian membebaskannya. Ini saya lakukan agar apa yang akan saya khutbahkan itu sudah terlebih dahulu saya amalkan sendiri. Dengan demikian, saya berharap apa yang saya ucapkan keluar dari hati saya dan sampai ke hati siapa yang mendengarkannya."
Cerita ini menyiratkan pesan kepada kita bahwa keteladanan adalah ruh dakwah. Para dai dan penyeru kepada kebaikan tidak hanya berkewajiban untuk mengajarkan apa itu kebaikan, tapi juga menunjukkan melalui diri mereka sendiri bagaimana kebaikan itu dilakukan.
Maka, ketika setiap kita berkewajiban menyampaikan kebaikan walaupun satu ayat, berarti keteladanan juga adalah kewajiban setiap kita. Kita para orang tua harus menjadi taladan atas semua hal baik yang kita anjurkan kepada anak-anak kita. Kita para guru, ustad, atau kiyai harus menjadi contoh untuk setiap kebaikan yang kita ajarkan kepada murid dan santri kita.
Dakwah itu sendiri pada hakikatnya adalah mengajak, bukan memerintah. Ketika kita mengajak seseorang pergi berarti kita pergi bersamanya. Sementara ketika kita memerintahkan seseorang untuk pergi, kita tidak pergi bersamanya. Dakwah adalah membersamai. Dakwah adalah mengajak untuk sama-sama melakukan kebaikan.
Dr. Muhammad Raatib An-Nabulsy, ulama dan mubalig kenamaan asal Syria, pernah bercerita tentang keteladanan: "Saat memutuskan akan menggeluti dunia dakwah, saya datang meminta nasihat kepada Syekh Mutawalli al-Sya'rawi (ulama besar di Mesir). Saya mengira beliau akan menuturi saya dengan banyak nasihat dan wejangan, ternyata beliau hanya memberi saya sebaris kalimat: Amalkan apa yang kamu dakwahkan."
Imam Hasan Al-Bashri menunda berbulan-bulan khutbah tentang keutamaan memerdekakan budak, padahal itu adalah janji beliau, dan baru menyampaikannya setelah beliau sendiri terlebih dahulu melakukannya. Ini adalah sebuah pesan agung dan mendalam bahwa tak ada dakwah tanpa keteladanan.

Wallahu A'lam.

 

Link tulisan ini di media lain: https://masa-kini.id/keteladanan/

Share

Penghargaan / جائزة

المدونة / Tulisan Blog

كتاب جديد / Buku Baru

 

حكمة / Hikmah

زوار / Pengunjung