new hd xxx video 18 xxx www amateur sister free porn sek xxx anak indonesia www com deutsche porno hd
Indonesia

FIR’AUN DAN IMAN YANG SIA-SIA
Nasaruddin


Dalam sejarah ummat manusia, tidak pernah ada manusia yang durhaka ‎kepada Allah seperti yang dilakukan oleh Fir’aun,  tidak mereka para pelaku ‎syirik, tidak pula mereka orang-orang kafir. Orang-orang musyrik atau yang ‎menyekutukan Allah sejatinya mengakui keberadaan Allah, tapi mereka ‎memilih menyembah selain-Nya. Begitu juga orang-orang kafir, mereka ‎mengakui keberadaan Allah, tapi mereka memilih untuk mengingkari-Nya. ‎

Firaun berada di level kecongkakan dan kedurhakaan yang lebih tinggi. Ia ‎tidak hanya tidak mengakui adanya Tuhan, Ia bahkan mengaku dirinya ‎tuhan. Ketika Nabi Musa datang menyadarkannya bahwa satu-satunya ‎Tuhan yang berhak disembah adalah Allah pencipta langit dan bumi, ia ‎justru memproklamirkan diri sebagai tuhan tertinggi. “Ana Rabbukumul A’la,” ‎Aku adalah tuhan kalian yang tertinggi (An-Nazi’at: 24). Ia seakan ‎menegaskan: Silakan disana ada tuhan lain seperti yang diakui Musa, tapi ‎aku tetap tuhan yang paling tinggi.‎

Namun, sebegitu congkak dan durhakanya Fir’aun terhadap Allah, di akhir ‎hayatnya akhirnya Ia beriman juga. Di detik-detik terakhir sebelum air laut ‎menenggelamkannya, Ia mengucapkan tauhidnya dan mengakui kebenaran ‎Allah SWT. Ia berikrar: “Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan selain yang ‎diimani oleh Bani Israil” (Yunus: 90). Lalu dikatakan kepadanya: “Apakah ‎sekarang kamu mengatakan itu, padahal sebelumnya hidupmu penuh ‎dengan kemaksiatan dan Engkau adalah termasuk para perusak?” (Yunus: ‎‎91).‎

Fira’un adalah cerita kecongkakan dan kedurhakaan terdahsyat yang ‎pernah ada dalam sejarah ummat manusia. Namun demikian, ia juga adalah ‎nasihat dan pelajaran terdahsyat yang dipertontonkan Allah kepada ‎manusia. Allah mengabadikan jasadnya sejak saat itu sampai sekarang agar ‎bukti kedurhakaannya kepada Allah serta bukti kemahakuasaan Allah ‎atasnya juga menjadi pelajaran abadi bagi ummat manusia.‎

Fir’aun adalah pelajaran bahwa manusia paling congkak dan durhaka ‎kepada Allah pun akan beriman dan bertauhid pada saat kematiannya. ‎Karena pada saat itulah mereka menyadari dan meyakini kebenaran Allah. ‎Tapi keimanan para pendosa saat sakaratul maut bukanlah keimanan yang ‎diterima. Tauhid mereka pada saat itu bukanlah tauhid yang ‎menyelamatkan. Iman dan tauhid mereka pada saat itu justru merupakan ‎awal dari azab panjang nan abadi bagi mereka di alam akhirat. Iman dan ‎tauhid mereka saat itu juga tak lebih dari ekspresi keputusasaan mereka ‎setelah menyadari bahwa rahmat dan ampunan Allah tidak mungkin lagi ‎mereka dapatkan.  ‎

Iman yang diucapkan Fir’aun menjelang kematiannya bukanlah keimanan ‎yang sesungguhnya, bukan pula keimanan yang lahir dari hati yang tunduk ‎kepada Allah. Ia bahkan tampak sebagai bentuk lain dari kecongkakan dan ‎keangkuhannya. Lihatlah ucapannya yang diabadikan dalam Al-Qur’an: ‎‎“Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan yang diimani oleh Bani ‎Israil.” (Yunus:90). Ia tidak mengatakan bahwa Ia percaya kepada Allah ‎Tuhan yang diimani oleh Bani Israil, Ia hanya menyebut bahwa ia percaya ‎pada apa  “yang diimani oleh Bani Israil.” Tampak bahwa, di akhir hidupnya, ‎Fir’aun masih terlalu congkak untuk menyebut nama Allah dan mengakui-‎Nya sebagai Tuhannya. Atau memang ia terlalu hina untuk mengucapkan ‎kalimat suci “Allah” yang selama hidupnya tidak pernah dikenalnya. Mustahil ‎ia tiba-tiba mengenal dan meyakini Allah yang dengan nada sinis pernah ‎dipertanyakannya kepada Musa: ”Lalu siapa Tuhan alam semesta itu?” (As-‎Syu’ara: 23).‎

Lebih jauh, imannya Fir’aun ditolak bukan semata soal kapan dan ‎bagaimana ia menyatakannya. Tapi, lebih mendasar lagi, ia tertolak karena ‎secara esensial hanya merupakan keimanan oportunis atau “iman dadakan”. ‎Iman yang diungkapkan setelah ia diperlihatkan bahwa apa yang selama ‎hidupnya ia ingkari ternyata benar adanya. Iman yang lahir ketika ia ‎mengetahui betapa hina nasibnya dan betapa pedih azab yang menantinya ‎di alam akhirat.  . Pendeknya, kata-kata Fir’aun tidak lebih dari upayanya ‎untuk mulai beriman dan bukan sebagai penegasan atas keimanan yang ‎dijalani selama di dunia. Iman atas prinsip “seeing is believing” (melihat dulu ‎baru percaya) seperti ini tentu tidak ada artinya, karena di antara bentuk ‎sejati keimanan  adalah iman kepada yang ghaib: “Alladziina yu’minuuna bil ‎ghaibi.” (Al-Baqarah: 3).‎

Keimanan Fir’aun yang sia-sia saat sakaratul mautnya juga tidak didukung ‎oleh siapa pun, tidak golongan manusia, tidak pula para Malaikat. Nabi Musa ‎terang-terangan mendoakan agar Fir’aun dan pengikutnya tidak ‎mendapatkan hidayah sampai akhir hayatnya mereka. Ia berseru: “Ya ‎Tuhan, binasakanlah harta mereka dan kuncilah hati mereka, sehingga ‎mereka tidak beriman sampai mereka melihat azab yang pedih.” (Yunus:88). ‎Artinya, setelah melihat bahwa Fir’aun benar-benar tidak mungkin lagi untuk ‎diajak bertauhid, Nabi Musa mengaharapkan kebinasaan untuknya dan ‎pengikutnya. Kalaupun mereka menyatakan beriman maka keimanan ‎mereka adalah keimanan yang terlambat, tertolak, dan sama sekali tidak ‎menyelamatkan mereka. ‎

Malaikat Jibril pun juga demikian. Ia bahkan turun tangan langsung untuk ‎menghalangi Fir’aun mati dalam keadaan beriman. Ibnu Katsir, ketika ‎menafsirkan momen-momen mati tenggelamnya Fir’aun (Yunus: 90), ‎mengutip sebuah riwayat bahwa Malaikat Jibril mengaku kepada Rasulullah ‎SAW telah menyumpal mulut Fir’aun dengan benda laut menjelang mati ‎tenggelam karena khawatir ia akan mengatakan kalimat tauhid yang ‎membuatnya bisa mendapatkan ampunan Allah SWT. ‎

Fir’aun akhirnya adalah pelajaran agung bahwa keimanan di akhir hayat ‎tidak bisa direkayasa sehingga bisa diucapkan atau ditunjukkan oleh siapa ‎pun yang menginginkan keselamatan. Iman dan tauhid pada saat itu adalah ‎cerminan dari keimanan yang dijalani seseorang selama kehidupan di ‎dunia. Hanya orang-orang yang benar-benar beriman dan beramal saleh ‎yang ditemani oleh keimanan seperti itu saat kematiannya. Itu pun bukanlah ‎jaminan untuk semua orang, sehingga  setiap orang yang beriman ‎hendaklah senantiasa memohon kepada Allah agar dimatikan dalam ‎keadaan husnul khatimah.  Wallahu A’lam.  ‎

Link tulisan ini di media lain...

Share

Penghargaan / جائزة

المدونة / Tulisan Blog

كتاب جديد / Buku Baru

 

حكمة / Hikmah

زوار / Pengunjung