new hd xxx video 18 xxx www amateur sister free porn sek xxx anak indonesia www com deutsche porno hd
Indonesia

KEBANGGAAN LITERASI

Nasaruddin 

 

Salah satu kebanggaan tak ternilai bagi seorang penulis adalah ketika ia menemukan ‎tulisannya diterbitkan, dikutip, dibicarakan, atau diapresiasi dengan satu dan lain cara oleh ‎orang lain.‎

Seorang sahabat mem-posting sebuah buku di grup kami disertai kalimat “Tidak sengaja ‎nemu buku itu, dan ada tulisan saya di dalamnya.” Saya langsung membayangkan ‎kebanggaan yang ia rasakan. “Inilah salah satu kebahagiaan dunia literasi: tanpa sengaja ‎nemu tulisan sendiri di-publish orang lain,” komentar saya. ‎

‎“Bangga sekaligus agak kecewa: kok nerbitin tulisan enggak ada bilang-bilangnya dulu. ‎Hehe,” timpalnya kemudian.‎

Saya memaklumi kekecewaannya. Menerbitkan tulisan tanpa izin penulisnya termasuk ‎pelanggaran etika dalam dunia literasi, walaupun itu mungkin dilakukan oleh orang yang ‎dikenal oleh penulisnya. Tapi saya yakin, kebanggaanlah yang lebih dirasakan sahabat saya ‎tersebut. Kenapa? Karena hal itu, walaupun melanggar etika literasi, tetap merupakan ‎bentuk pengakuan atas karyanya. Dan pengakuan adalah hal paling mewah bagi seorang ‎penulis, karena merupakan konfirmasi bahwa karyanya telah sampai kepada pembacanya ‎dan juga telah memberikan manfaat kepadanya. ‎

Pengakuan atas sebuah tulisan memang terkadang dilakukan dengan cara yang tidak ‎benar. Plagiasi, misalnya, adalah cara tidak jujur dalam mengakui dan mengambil manfaat ‎dari sebuah karya tulis. Tapi jangan lupa, terlepas dari caranya yang tidak benar, plagiasi ‎adalah juga konfirmasi bahwa sebuah tulisan telah memberi manfaat dan diakui. Ia tetap ‎akan memberikan kebanggaan tertentu dalam relung terdalam hati penulisnya. Inilah yang ‎saya sebut dengan kebanggaan literasi. ‎

Saya juga pernah merasakan kebanggaan serupa, walaupun tidak sering, karena jumlah ‎tulisan saya yang belum banyak. Di antaranya datang dari tulisan-tulisan ringan saya dalam ‎bahasa Arab yang saya share di website saya “lisanarabi.net.” Semula, tulisan-tulisan ‎tersebut saya share untuk para pencinta bahasa Arab di Tanah Air, terutama mahasiswa-‎mahasiswa saya. Tapi alhamdulillah, di luar dugaan saya, ketika berselancar di dunia maya ‎untuk memperkaya referensi, saya menemukan tulisan-tulisan tersebut dinukil dan di-‎publish di situ-situs Arab, di antaranya di website resmi Dewan Bahasa Arab Internasional.‎

Tulisan-tulisan tersebut, yang tadinya saya maksudkan untuk mahasiswa saya, ternyata ‎juga dibaca oleh banyak orang selain mereka. Suatu saat, ketika malacak lalulintas ‎pembaca tulisan-tulisan tersebut, saya menemukan ternyata pembaca tulisan-tulisan ‎tersebut tersebar di 92 negara. Di antara tulisan-tulisan tersebut bahkan ada yang sudah ‎dibaca 150 ribu kali.‎

Yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya adalah tulisan-tulisan saya tersebut ‎diapresiasi tim editor Al-Jazeera, situs berita terbesar yang berbasis di Qatar. Mereka ‎ternyata mengikuti tulisan-tulisan saya, dan setelah melihat konsistensi saya menulis dalam ‎bahasa Arab, mereka meminta kesediaan saya untuk menjadi kontributor tetap laman ‎khusus pembelajaran bahasa Arab di website mereka “aljazeera.net.” Alhamdulillah, ‎sampai sekarang saya masih mengisi secara rutin rubrik tersebut bersama para penulis dari ‎negara-negara lain. ‎

Kebanggan literasi juga pernah saya rasakan berkat tulisan-tulisan saya dalam bahasa ‎Indonesia. Yang paling berkesan adalah ketika tulisan sederhana saya berjudul “Gusjigang” ‎dipajang di Museum Jenang Kudus, Jawa Tengah. Itu berawal ketika direktur PT.Mubarok ‎Food, produsen Jenang Kudus, menyampaikan konsep bisnis warisan Sunan Kudus yang ‎mereka terapkan pada acara pembekalan calon wisudawan di kampus saya UIN Sunan ‎Ampel Surabaya. Saya sangat tertarik dan usai acara membuat tulisan sederhana berjudul ‎Gusjigang (Bagus Akhlak, Pandai Ngaji, dan Pintar Dagang) dan mem-posting-nya di ‎Facebook.‎

Selang beberapa bulan, ketika mengunjungi museum Jenang Kudus di Jawa Tengah, saya ‎begitu surprised ketika pemilik museum tersebut meraih tangan saya dan mengajak masuk ‎ke sebuah ruangan. Ternyata tulisan saya sudah dipajang di sana bersama tulisan Gus Mus, ‎Emha Ainun Najib, dan penulis-penulis terkenal lainnya. ‎

Kebanggaan literasi tidak hanya dirasakan oleh para penulis, tapi juga oleh keluarga dan ‎orang-orang dekat mereka. Ketika berkunjung ke Universitas Marmara Istanbul Turki pada ‎tahun 2015, salah seorang teman rombongan saya menghampiri saya dengan raut yang ‎emosional. “Ustadz, ternyata kitab karya Kakek saya dikoleksi dan dibaca di perpustakaan ‎kampus ini,” ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca. Kitab yang ia maksud adalah “Siraaju ‎At-Thaalibiin” dan yang Ia sebut kakeknya tidak lain adalah Syekh Ihsan Jampes Kediri. ‎

Lama ia terpaku di hadapan saya untuk menetralkan kembali perasaannya. Tampak sekali ‎raut emosi kebanggaan seorang cucu ketika tidak menyangka mendapati kitab karya ‎kakeknya dijadikan referensi di perpustakaan salah satu kampus terbesar di Turki. “Tidak ‎hanya dikoleksi, Ustadz, tapi benar-benar dibaca. Saya lihat sendiri beberapa halamannya ‎diberi komen dan diberi arti,” kenangnya ketika saya mengonfirmasi kembali pengalaman ‎emosionalnya di Turki 5 tahun silam itu. ‎

Itulah dan begitulah kebanggan literasi. Ketika sebuah tulisan memberi manfaat dan ‎mendapat pengakuan dan apresiasi dari pembacanya, ia akan memberikan kebanggaan ‎bagi penulisnya. Dan kebanggaan yang dirasakan penulis itu, dalam kadar yang berbeda, ‎juga akan dirasakan keluarganya, pondoknya, sekolahnya, kampusnya, komunitasnya, ‎organisasinya, partainya, negaranya, agamanya, dan siapa pun serta apa pun yang terkait ‎dengannya.‎

Dan, cukuplah kebanggan literasi itu menjadi motivasi bagi kita semua untuk melakukan ‎da’wah bil qolam, menebar manfaat dan kebaikan melalui tulisan. Wallahu A’lam.‎

Klik untuk melihat tulisan ini di media lain...

Share

Penghargaan / جائزة

المدونة / Tulisan Blog

كتاب جديد / Buku Baru

 

حكمة / Hikmah

زوار / Pengunjung