دروس

Mereka yang Meyakini Janji Allah

 

Ajaran Islam berisi begitu banyak janji Allah untuk menstimuli kita untuk sebanyak mungkin berbuat kebaikan. Janji-janji itu disampaikan dalam al-Qur’an dan al-Hadits dengan jelas, gamblang dan detail, agar kita memahaminya juga dengan jelas, gambling dan detail. Maka tak jarang janji-janji Allah tersebut digambarkan dalam metafora-metafora yang hidup serta perumpamaan-perumpamaan  yang nyata, agar tergambar jelas dalam benak dan pikiran kita.

Janji-janji Allah tersebut dalam al-Qur’an disampaikan berkali-kali dengan diselingi, juga dengan berkali-kali, penegasan bahwa Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Artinya, janji Allah itu selain jelas dan gamblang juga pasti ditepati dan tidak akan pernah dikhianati.

Namun demikian, sering kali janji-janji Allah yang begitu gamblang dan pasti tersebut menjadi hanya sebatas pengetahun buat kita. Sesuatu yang kita ketahui atau kita kagumi, tapi tidak sampai kita yakini benar-benar. Sesekali kadang keyakinan itu ada, tapi tidak pada kadar yang mampu  mendorong kita beramal kebaikan dengan penuh pengorbanan, ikhlas serta tawakkal.

Demikianlah, namun cerita berikut ini mungkin bisa menjadi lautan hikmah tempat kita bisa menimba pelajaran bagaimana seorang hamba meyakini janji Allah dan berbuat penuh ikhlas dan tawakkal atas dasar keyakinan tersebut: 

Diriwayatkan bahwa suatu ketika Fatimah putri Rasulullah Saw jatuh sakit. Sayyidina Ali bin Abi Tholib sang suami menungguinya dan bertanya:

 “Wahai Fatimah, Adakah yang ingin engkau makan dari kelezatan dunia?”.

 “Wahai Ali, Aku ingin sekali makan buah delima”, jawabnya.

Mendengar jawaban istrinya Ali berpikir sejenak. Saat itu tak serecehpun uang di tangannya. Ia kemudian berangkat ke pasar mencari pinjaman satu dirham lalu membelikannya sebiji delima. Setelah mendapatkan delima ia pun bergegas pulang. Tapi di tengah jalan ia melihat seorang tua tergeletak sakit di tepi jalan. Ia berhenti dan menanyainya

“Engkau ingin apa, wahai orang tua?”

“Wahai Ali, sudah lima hari aku tergeletak disini. Orang-orang lalu-lalang di hadapanku, tapi tak satupun yang memperhatikanku. Aku ingin sekali makan buah delima”.

Mendengar itu  Ali berada di persimpangan. Dalam hatinya ia menimbang-nimbang. Delima satu-satunya ini kubeli untuk istriku Fatimah. Jika kuberikan kepada pengemis tua ini, kasihan istriku. Tapi, jika tidak kuberikan, berarti aku mengabaikan perintah Allah (“Dan para peminta-minta janganlah engkau mengabaikannya”) dan sabda Nabi (“Jangan pernah kalian menolak seorang peminta walaupun dia mengendarai kuda”). Maka Ali memutuskan membelah delima itu. Lalu memberikan (separuhnya) kepada pengemis tua itu. Begitu memakannya, pengemis itu pun sembuh dari sakitnya. Dan pada saat yang sama, tanpa disadari oleh Ali, istrinya di rumah juga ikut sembuh dari sakitnya.

Ali kemudian melangkah pulang. Ada rasa malu menggelayut di hatinya. Karena hanya membawakan separoh delima untuk istrinya. Namun, ketika sampai di rumah, istrinya langsung menghampiri dan memeluknya.

“Saat hatimu galau, ketika engkau memberikan delima kepada pengemis tua itu, atas kuasa Allah, hilanglah keinginanku memakan delima”.

Mendengar kata-kata istrinya, Ali berbalik senang. Dan saat itu tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.

“Siapa di luar?”, tanya Ali

“Saya, Salman al-Farisi. Bukakan pintu”.

Ali bangkit dan ketika membuka pintu Ia mendapati Salman membawa nampan tertutup sapu tangan dan meletakkannya di hadapannya.

“Dari siapa ini, wahai Salman?”, tanya Ali.

“Dari Allah kepada Rasul-Nya, dan dari Rasulullah untukmu”.

Ali kemudian membuka penutup nampan dan mendapati 9 buah delima.

“Wahai Salman, jika benar ini untukku, mestinya 10 buah. Karena Allah berfirman “Siapa yang melakukan satu kebaikan, akan diganjar dengan sepuluh kebaikan yang sama”.
Mendengar itu Salman tertawa. Lalu mengeluarkan sebiji delima dari sakunya dan menaruhnya di nampan.

“Wahai Ali. Demi Allah, jumlahnya memang 10 biji. Tapi sengaja kusembunyikan satu untuk mengujimu”.

 

(... Cerita diatas menyiratkan  pelajaran berharga betapa para tokohnya (Sayyidina Ali, Istrinya Fatimah, dan sahabatnya Salman al-Farisi- Radhiyallohu anhum) adalah pribadi-pribadi yang meyakini janji Allah seyakin-yakinnya. Sedemikian dalam dan berakar keyakinan itu dalam diri mereka sampai mampu menuntun pola pikir dan pola laku mereka dalam segala kondisi dan keadaan. Lihatlah sayyidina Ali, dengan ikhlas membelah delima yang saat itu begitu ia butuhkan untuk istrinya yang sakit. Ini tidak akan dilakukannya kalau ia tidak meyakini janji Allah yang akan membalas sekecil apapun kebaikan. Keyakinan ini menjelma dalam dirinya menjadi motivasi maha dahsyat yang menghalau sejenak keraguan dalam dirinya sebelum memutuskan membelah delima di tangannya dan  kemudian berbagi dengan pengemis tua itu. Keyakinannya bahkan membuatnya berani menolak 9 biji delima yang dianggapnya tidak sesuai dengan janji Allah yang akan mengganti tiap kebaikan dengan sepuluh kali lipat.

Keyakinan yang sama juga membuat istrinya Fatimah mendukung dan mengapresiasi sepenuh hati apa yang dilakukannya. Fatimah melihat dan merasakan langsung bagaimana keluarganya mendapatkan ganjaran langsung yang berlipat dari Allah untuk kebaikan yang dilakukan suaminya.

Dan Salman al-Farisi datang bersama nampan berisi delima itu  bukan untuk membawa cerita yang lain, tapi untuk mendukung cerita yang sama, yakni tentang keyakinan pada janji Allah. Maka ia sengaja menyembunyikan sebiji delima untuk menguji sahabatnya. Ia ingin melihat apakah Ali menerima delima itu sebagai nikmat biasa atau sebagai ganjaran atas sedekah delimanya. Dan Ali menunjukkan padanya, istrinya, dan kita semua, bahwa ia tidak hanya meyakini bahwa janji Allah itu ada, tapi juga pasti, dengan detail kuantitasnya....).

(Allahuma atina ma ataitahum minal imani wal yaqini, amiin). //:Nasar     

Share

أضف تعليق


كود امني
تحديث

Penghargaan / جائزة

المدونة / Tulisan Blog

كتاب جديد / Buku Baru

حكمة / Hikmah

آخر تعليقات / Latest Comments

زوار / Pengunjung