دروس

Mereka yang Menjaga dan Merawat Kebaikan

 

Kebaikan adalah cita-cita peradaban manusia, kapan dan dimanapun. Namun, sejarah peradaban manusia, kapan dan dimanapun, juga telah membuktikan bahwa betapa sulitnya mewujudkan cita-cita ini. Penyebab utamanya adalah karena manusia lebih suka menikmati kebaikan tanpa berperan untuk ikut berbuat baik dan merawat kebaikan itu.

Namun, di suatu waktu pada masa pemerintahan Umar bin Khattab r.a., belasan abad yang lalu, generasi emas Islam menunjukkan kepada peradaban manusia contoh agung bagaimana setiap orang berusaha berbuat baik dan menjaga agar kebaikan itu tidak hilang dari kehidupan.

Diceritakan bahwa pada suatu hari dua orang pemuda datang menemui Khalifah Umar bin Khattab. Mereka menggiring seorang lelaki dan mengajukannya di hadapan sang khalifah.

“Ada apa ini ?”, Tanya Umar

“Wahai Amirul Mukminin, Orang ini telah membunuh ayah kami”, jawab dua pemuda itu.

“Benar?” Tanya Umar kepada lelaki itu

“Benar” sahutnya

“Bagaimana engkau membunuhnya?”

“Ia masuk dengan untanya ke lahanku. Aku mengusirnya, tapi tidak bergeming. Lalu aku melemparinya dengan batu dan mengenai kepalanya lalu ia mati”

“Balasannya kamu dihukum mati” putus Umar

Keputusan ini tak perlu ditulis. Harga mati yang tak bisa ditawar lagi. Umar bahkan tidak bertanya tentang keluarga lelaki tersebut. Apakah dia dari suku yang terhormat? Atau dari keluarga yang terpandang dan berkuasa? Apa kedudukannya dalam masyarakat? Semua itu tidak akan dipersoalkan oleh Umar. Karena beliau tidak berkompromi dengan siapa pun tentang hukum Allah. Dan tidak akan menyenangkan seseorang dengan menyalahi syariat-Nya. Bahkan seandainya pembunuhnya adalah putranya sendiri beliau tetap akan meng-qishos-nya.

Lelaki itu berkata “Ya Amiral Mukminin, demi Allah Tuhan langit dan bumi, beri aku waktu semalam saja untuk pulang menemui istri dan anak-anakku di desa, dan mengabari mereka bahwa engkau akan men-qishos-ku. Setelah itu aku akan segera kembali lagi kesini. Demi Allah mereka tak punya siapa-siapa, kecuali Allah dan aku.


Umar bertanya, “Siapa yang menjadi jaminanmu selama kau pergi sampai engkau kembali?”

Semua orang yang hadir saat itu diam. Mereka sama sekali tidak tahu nama lelaki tersebut. Mereka juga tidak tahu dari suku mana dia berasal dan dimana tempat tinggalnya. Bagaimana mungkin mereka menjaminkan diri mereka untuknya? Apalagi ini bukan sembarang jaminan. Bukan jaminan seharga 10 dinar, atau sepetak tanah, atau seekor unta. Ini menjaminkan leher untuk dipenggal dengan pedang. 
Dan mereka juga tahu bahwa Umar orang yang sangat tegas. Dalam menerapkan syariat, tak seorangpun bisa mengahalanginya, atau  melobinya, atau mengintervensinya.

Maka merekapun terdiam. Umar sendiri tampak tersentuh campur bingung. Apakah ia langsung menghukum mati lelaki ini dan anak istrinya di  desa mati kelaparan? Atau membiarkanya pulang tanpa jaminan dengan resiko ia (bisa saja) mangkir dan hukum urung ditegakkan? Orang-orang semakin terdiam. Umar tertunduk, kemudian menoleh kepada dua pemuda penuntut tadi:

“Maukah kalian memaafkan lelaki ini?”.

“Tidak” jawab mereka tegas. “Pembunuh bapak kami juga harus dibunuh, wahai amirul mukminin !”.

Lalu Umar memandang ke semua yang hadir, “Adakah diantara kalian yang bersedia menjaminkan dirinya untuk lelaki ini ?!”

Tiba-tiba Abu Dzar Al-Ghiffari berdiri. “Wahai Amirul Mukminin, Aku bersedia menjadi jaminannya”

 “Engkau tahu, lelaki ini akan dihukum mati” Umar mengujinya.

“Iya, saya tahu” jawab Abu Dzar

 “Engkau mengenalnya?”

“Tidak”

“Lalu kenapa engkau mau menjadi jaminanya?”

“Aku melihat ciri orang beriman dalam dirinya. Aku yakin ia tak akan bohong. Insya Allah, ia akan kembali”

“Wahai Abu Dzar, jika dia tidak kembali dalam 3 hari, engkau pikir aku akan mengurungkan hukuman?”

Allah al-Musta’an, Wahai Amiral Mukminin”

Maka Umar membiarkan lelaki itu pergi. Umar memberinya waktu tiga hari untuk menyiapkan diri, pamit kepada keluarganya dan menyiapkan urusan mereka setelah ia mati, lalu segera kembali.

Tiga hari berlalu. Umar tahu sudah tiba waktu yang dijanjikan. Sore waktu sholat Ashar Umar mengumpulakan orang-orang. Mereka berkumpul, termasuk dua pemuda penuntut kematian ayah mereka itu. Abu Dzar al-Ghiffari juga datang, dan duduk di hadapan Umar.

“Mana lelaki itu?” Tanya Umar

“Saya tidak tahu, wahai Amiral Mukminin”, jawab Abu Dzar.

“Abu Dzar menengadah ke langit. Tampak olehnya matahari bergerak lebih cepat dari biasanya.

Orang-orang yang hadir pada diam. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing yang hanya Allah yang mengetahuinya.

Semua tahu Abu Dzar begitu dekat di hati Umar. Dan ia akan memberikan apa saja jika ia memintanya. Tapi ini hukum. Ini aturan. Ini ketentuan Allah. Tak seorangpun berani mempermainkannya dan meragukan otoritasnya. Ia harus ditegakkan dalam keadaan apapun, terhadap siapapun, dan di tempat manapun.

Dan, sesaat sebelum matahari tenggelam. Tiba-tiba lelaki itu muncul. Umar langsung mengucap takbir. Dan semua yang hadir serempak bertakbir.

Umar berkata: “Andai kau tetap di desamu dan tidak kembali, kami tidak tau kemana mencarimu”

Lelaki itu menjawab, “Aku datang bukan karenamu, tapi karena Dia Yang Maha Tahu semua rahasia dan semua yang tersembunyi!!.  Ini aku datang ya Amiral Mukminin. Kutinggalkan anak-anakku seperti anak burung di sarangnya. Tak ada air dan tumbuhan di tempat kami. Aku datang untuk menghadapi hukuman mati, karena aku tak mau ada yang berkata bahwa kesetiaan pada janji telah hilang dari manusia.

Umar kemudian bertanya kepada Abu Dzar, “Kenapa engkau menjaminkan dirimu untuknya?”

“Karena aku tak mau ada yang berkata bahwa kebaikan telah hilang dari manusia” jawabnya.

Umar kemudian berkata kepada dua pemuda penuntut, “Lalu bagaimana dengan kalian berdua?”

Mereka menjawab sambil terisak, “Kami memaafkan lelaki ini karena kejujurannya ya Amiral Mukminin. Dan karena kami tak mau ada yang berkata bahwa memaafkan telah hilang dari manusia”

Umar langsung bertakbir. Air matanya mengalir membasahi janggutnya.

(….Semoga, dengan merenunginya, kisah diatas memberi pelajaran buat kita bahwa kebaikan akan mewarnai kehidupan ketika kita berkomitmen menjaga dan merawatnya. Kebaikan pada hakikatnya adalah kewajiban tiap individu, dalam keadaan apapun. Lihatlah, lelaki itu melakukan kebaikan agung setelah ia berbuat zholim. Dan dua pemuda itu melakukan hal yang sama setelah keluarga mereka dizholimi. Juga Abu Dzar, ia membuka pintu dan memberi jalan bagi kebaikan agar ia tidak berhenti. Lalu Umar bin Khattab, ibarat seorang Ibu kepada anaknya, Ia telah mengayomi kebaikan agar nyaman tak terusik. Dalam posisi yang berbeda, mereka menunaikan kewajiban yang sama: menjaga kebaikan agar tetap ada diantara manusia…). //:Nasar.

 

Share

التعليقات   

 
0 # نصر 2013-10-16 02:48
Tulislah stu dua patah kata untuk mengomentari kisah ini, setidaknya sebagai pertanda kita mau bertegur sapa ttg kebaikan...
رد | رد مع اقتباس | اقتباس
 

أضف تعليق


كود امني
تحديث

Penghargaan / جائزة

المدونة / Tulisan Blog

كتاب جديد / Buku Baru

حكمة / Hikmah

آخر تعليقات / Latest Comments

زوار / Pengunjung